Kamu adalah fatamorgana di gurun yang panas dan kering. Melambai-lambai menyuguhkan pemandangan mata air segar membelalakan mata hatiku. Rupamu yang fana itu tak membuatku berfikir rasional. Yang aku tahu kala itu hanya berjalan mendekatimu. Kau membatku berjalan sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah menuju tempatmu dan berharap dapat menyentuh segarnya dirimu. Hingga 3 meter jauhnya aku darimu, rupamu mulai berbayang. Berbayang, lalu… Puf! Hilang begitu saja.
Aku sadar bahwa kau hanya fatamorgana. Aku tahu bahwa kau palsu. Aku tahu bahwa adanya dirimu hanya suatu penyemangat dalam hidupku. Aku tahu bahwa sekeras apapun aku mencoba mendekatimu, kau akan selalu hilang. Lalu kau muncul lagi, lalu kau hilang lagi.
Keledai pun tidak akan jatuh di lubang yang sama. Lalu makhluk apa aku ini? Bahkan hewan terbodoh seperti keledai pun tak akan terperangkap di lubang yang sama. Lalu aku benar-benar telah dibutakan olehmu, sang fatamorgana ulung! Karena ketika kau muncul, aku mendekat. Aku mendekat, kau menghilang. Kau muncul lagi, aku mendekat lagi. Aku mendekat, kau hilang lagi. Kau muncul lagi lagi, aku mendekat lagi lagi. Aku mendekat, kau hilang lagi lagi. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi dan begitu seterusnya…
Diantara kebodohan ini, ada sebagian diriku yang justru menikmatinya. Adapula yang kecewa dan terluka. Andai saja kau adalah mata air nyata yang diam menungguku hingga aku mendekatimu. Memiliki tempat yang tetap dan aku dapat menyentuhmu. Menikmati tawa-tawa renyah bersama. Melewati hari indah tanpa terasa. Tapi itu hanyalah andai berandai. Karena nyatanya kau tetaplah fatamorgana yang muncul tenggelam di tengah gurun hatiku yang panas dan kering…
viska ayu nirani :)