Kamis, 07 April 2011

Ice Cream

 Hari ini adalah hari yang spesial untuk kami. Aku tepat duduk di sebelah Yogi, suamiku tercinta. Terdengar suara canda gurau di bangku belakang mobil. Mereka tertawa dan berteriak secara bersamaan. Benar. Mereka putra dan putri kami, Reisva dan Raisya. Anak kami kembar dan sekarang mereka sedang duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

Aku dan suamiku selalu meluangkan satu hari dalam seminggu untuk bermain bersama anak-anak kami. Aku seorang psikolog yang selalu sibuk mengurusi permasalahan klien ku. Suamiku seorang dokter ahli bedah yang jarang diam di rumah. Namun untuk hari ini semua itu kami tinggalkan demi bermain bersama Reisva dan Raisya.

“Bunda, sekarang kita mau main kemana?” tanya Reisva bersemangat.
Aku melirik suamiku dan kami tersenyum kecil, “Cimahi, Sayang. Kota kecil tempat ayah dan bunda bermain dulu. Kamu pasti seneng deh.”
“Oh... ada banyak tukang dagang nggak, Bun?” tanya Reisva lagi.
Raisya memukul pundak Reisva dan berkata, “Iiih kamuu! Pasti banyak lah.. banyaaaak banget! Hahaha iya kan, Bun?”
“Iya.. iya.. nanti kita beli ice cream ya!”
“HOREEEE!!” seru mereka bahagia.

Kami pun memasuki kawasan Kota Cimahi. Polres Cibabat, Rumah Sakit Mitra Kasih, Super Indo dan bangunan lainnya dilewati mobil kami. Keadaannya tidak begitu berubah. Hanya ada beberapa sedikit perubahan dalam bentuk bangunannya.

Sejenak, sebuah memori terlintas dalam pikiranku. Teringat delapan tahun yang lalu dimana aku dan suamiku masih bersekolah di bangku SMA. Dimana masa-masa itu adalah masa-masa paling berkesan dalam ingatanku. Dimana perasaan batinku mudah meluap-luap. Dimana aku dan sahabat-sahabatku berpegangan tangan, tertawa, menangis serta melewati waktu bersama. Hingga rasanya kini aku ingin melewati masa-masa itu sekali lagi.

Masuk SMA Negeri 1 Cimahi bukanlah cita-citaku. Bahkan sepertinya tidak pernah terlintas dalam benakku. Aku cukup merasa badmood melewati hari demi hari di sekolah ini. Tidak ada yang menyenangkan. Tidak menarik. Membosankan.
Banyak teman-teman yang baik namun bukan sahabat yang baik. Apalagi setiap kali aku merasa kesepian, yang terlintas di dalam benakku hanyalah kedua sahabat SMP ku, Aprillia dan Tami. Benar-benar suasana yang cukup buruk.

Hingga bulan demi bulan berlalu, aku mulai terbiasa. Terbiasa dengan segalanya di sekolah ini. Kelas-kelas, teman-teman, guru-guru, bangunan serta emang-emang tukang dagang. Semuanya mulai terasa akrab. Apalagi sekarang telah ada dua orang yang menemaniku melewati waktu di sekolah, Tari dan Rani. Mereka sahabat baikku.

Kala itu kami bertiga sedang asyik jajan dan bercanda di Nci. Toko yang ada tepat di depan sekolah kami. Toko tempat nangkring anak-anak sekolah kami. Tari membeli beberapa snack dan memulai pembicaraan, “Eh tau ga? Kemaren aku mergokin si Yogi lagi ditembak sama si Gendis! Gilaaa parah banget kan?”
“Waaah? Terus-terus-terus?” sambut Rani penasaran.
“Iya yaaaaa... tapinya-tapinya.. ditolak! Haduuuh kasian ya?!”
“HAH? Aduh kasian ih. Padahal kan Gendis paling cantik di sekolah. Udah gitu ya, katanya dia itu model majalah! Keren kan? Aneh banget kalau ditolak!” ucap Rani kaget dengan gosip dari Tari.
“Iyaaa! Aneh kan? Emang bego tuh si Yogi!” sambung Tari. Ia membuka snack-nya dan memakanya satu demi satu. Lalu ia meneruskan kalimatnya, “ Yun? Kok kamu diem aja sih? Bukannya kamu suka yaa sama Yogi? Hahaha iyakan?”
“Iyaa bener tuh bener!” jawab Rani.
“Huss! Udah ah, kita ke kelas!” jawabku cepat sambil berjalan menuju kelas.

Yogi. Ia anak yang keren. Baru-baru ini ia memenangkan lomba cerdas cermat MIPA se-Jawa Barat. Tubuhnya tinggi. Kulitnya sawo matang. Ia mengenakan kaca mata. Tampangnya tidak begitu tampan namun ia memiliki karisma yang mampu membuat para gadis terpana. Ia sopan dan aku suka padanya. Ya. Aku sangat menyukainya. Aku adalah pengagumnya.

Aku dan Yogi berada di ekskul yang sama, fotografi. Aku tak pernah menyapanya. Aku justru menjauhinya. Aku hanya takut bertindak bodoh di depannya atau membuatnya menjauhiku. Namun ternyata ia adalah anak yang ramah. Kami mulai dekat ketika ekskul kami mengadakan perjalanan untuk hunting foto. Ia sangat baik. Aku semakin mengaguminya.
Aku dan Yogi tidak pernah satu kelas. Mengecewakan tapi beruntunglah aku. Karena aku dapat menduduki peringkat lima besar karena tidak ada Yogi di dalam kelasku.  Yogi selalu menduduki peringkat pertama. Bahkan dalam peringkat satu angkatan, ia tetap berada di posisi pertama. Coba saja kita bayangkan, jika Yogi ada di kelasku sekarang, mungkin aku tidak akan masuk peringkat lima besar lagi.

Gendis adalah teman yang tak akan pernah aku lupakan. Tingkahnya terhadapku sudah begitu terekam dan membuatku ingin tertawa. Ada beberapa kejadian yang masih aku ingat tentangnya...

Suatu hari Gendis berjalan menghampiriku, “Hai.. kamu Yuni kan? Kenalin aku Gendis. Aku tau kamu dari Yogi. Dia bilang kamu pinter jepret foto. Aku mau minta bantuan kamu dong.”
“Oh. Boleh. Mau diambil kapan?”
“Sekarang yaa! Tapi aku mau pulang ke rumah dulu. Nanti kalau udah mau ke sekolah lagi, aku sms kamu. Okay?”
Aku mengangguk, “Okay. Ditunggu yaa Gendis.”

Gendis hanya tersenyum kecil. Ia melambaikan tangannya tanda berpisah. Tubuhnya bergerak ke kanan ke kiri. Kakinya berjalan menyilang. Rambutnya terurai sedikit berkibar tertiup angin. Begitu anggun. Begitu cantik. Begitu Indah. Aku terpana melihatnya.

Gendis menepati janjinya. Aku mengambil beberapa gambarnya. Ia terkesan dengan hasil jepretanku. Yogi juga ada di tempat itu. Ia juga terkesan dengan hasil jepretanku. Namun sayangnya, hari sudah mulai gelap. Rumahku cukup jauh dari sekolah. Yogi menawarkanku untuk pulang bersama, “Yun, pulang bareng aku yuk! Udah mau magrib nih.”
Aku merasa senang dengan tawarannya hingga ketika aku mau menjawab, Gendis berkata terlebih dahulu, “Ah Yogi. Maaf bukannya aku nggak khawatir sama Yuni. Tapi apa kamu nggak liat? Aku pake rok pendek! Kalau aku naik kendaraan umum terus ada apa-apa gimana? Aku takut tauuu..”

Yogi mulai terlihat bingung. Gendis menarik tangan Yogi manja, “Okay. Aku anter kamu.” Kata Yogi sambil berlalu menuju parkiran.

Gendis melompat kegirangan. Ia menghampiriku dan ia mengucapkan kalimat yang cukup membuat aku aneh, “Yuni, maaf yaa aku mau sama Yogi. Kamu lebih pantes naik angkot kok! Hahaha.”

Semenjak hari itu, entah apa itu alasannya, Gendis bertingkah ketus terhadapku. Ia sering menyindirku dan menertawaiku. Mengatai kalau aku cupu dan culun. Mengatakan kalau tubuhku tak berbentuk seperti tiang bendera. Aku hanya pasrah dikatainya begitu. Karena.. yaa... aku memang orang yang cukup pasrah. Malas meladeni perkelahian.

Aku dan Yogi semakin akrab sebagai seorang teman. Bahkan Yogi terkadang mengajariku beberapa pelajaran jika akan ulangan. Ia bilang aku enak diajak bercanda. Ia juga bilang aku enak diajak cerita. Oleh sebab itu ia menceritakan sebuah rahasia kepadaku. Ia bercerita padaku kalau ia tinggal bersama neneknya. Kakeknya sudah meninggal dan orang tuanya menghilang entah kemana. Ibunya hanya rutin mengirimkan uang tanpa pernah merasa rindu terhadap Yogi. Ayahnya tidak pernah memberi kabar. Ayah dan Ibu Yogi sudah berpisah sejak Yogi lahir. Yogi terlahir karena kesalahan kedua orang tuanya. Ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan kabur menjauhi Yogi. Ibunya yang kala itu masih cukup muda tidak mau dan tidak mampu merawat Yogi. Yogi dititipkan ke nenek. Ibu mendapatkan pacar baru yang kaya raya dan pergi meninggalkan Yogi dengan neneknya.

Aku terkejut mendengarnya. Ia memintaku berjanji untuk tidak menceritakan cerita itu kepada siapa pun termasuk kedua sahabatku, Tari dan Rani. Aku pun menyanggupinya. Aku berjanji padanya tepat ketika ternyata Gendis tak sengaja mendengar cerita itu dari balik pintu kelas.
Hari-hari menuju UN pun semakin dekat. Aku semakin dekat dengan Yogi dan Gendis semakin menyebalkan terhadapku. Aku tak pernah menanggapi Gendis tapi Gendsi semakin menjadi-jadi.

Dua hari menuju UN, sebuah berita terpampang di mading sekolah berjudul ‘Hot News about Our YOGI’. Isinya sama percis dengan rahasia Yogi yang ia ceritakan padaku. Hatiku bagai teremas. Leherku bagai tercekik. Di balik mata-mata yang membaca berita itu, terdapat sepasang mata berkaca mata yang menatapku tajam. Mata milik Yogi. Aku memandanginya bingung. Ia berjalan menjauhiku. Aku berjalan mendekatinya.
“Bukan. Bukan sama aku. Bukan sama aku ih.. beneran. Suer!” kataku sambil berjalan di sebelahnya.
“Bukan kamu? Terus siapa lagi?” tanya Yogi singkat lalu mempercepat jalannya.

Aku tertinggal langkah kakinya. Aku bingung. Aku memberikan penjelasan tapi Yogi tak mau mendengarkan. Aku mengirimnya pesan, tidak ia balas. Aku memberinya panggilan, tidak ia angkat. Aku bingung. Sangat bingung. Hingga suatu pesan darinya masuk ke dalam handphone-ku yang berisi, ‘Jangan ganggu. Senin UN dan aku butuh waktu.’

“Bundaaaa! Bunda ngelamun ya? Katanya mau beliin kita ice cream!” ucap Reisva dan Raisya membuyarkan lamunanku.
“Oh.. iya Sayang. Tunggu yaa Bunda beli dulu ke toko itu.” Jawabku sambil menunjuk suatu toko. Suatu toko yang tidak asing bagiku dan bagi Yogi.

Semenjak pesan dari Yogi masuk ke handphone-ku, aku tak pernah berbicara ataupun berkomunikasi dengan Yogi lagi. Kita semua terlalu sibuk. Terlalu sibuk mengurusi kelulusan. Sebenarnya tidak sesibuk itu. Tapi nampaknya Yogi tak pernah mau menyempatkan diri untukku.

Sampai kita keluar dari sekolah dan meneruskan ke perguruan tinggi, aku tak pernah berkomunikasi dengan Yogi. Aku menghapus kontaknya dari handphone-ku karena terlalu kesal. Karena aku disalahkan untuk sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Aku tak pernah tau kabarnya lagi dan takan mau tau lagi.

Setahun berlalu setelah kelulusan SMA. Tiba-tiba aku mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal. Pesan itu berisi permintaan tolong agar aku datang ke toko Nci di depan SMA Negeri 1 Cimahi. Penting banget katanya.
Awalnya aku tidak peduli. Tapi karena rasa penasaranku, aku pun datang ke tempat yang diminta si pengirim pesan. Di toko Nci telah berdiri seorang pria dengan jaket hitam menatapku. Wajahnya cukup akrab. Ia tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Ia tampak seperti Yogi. Apakah ia Yogi? Jika iya, ada apa dengan dia?

“Ini mungkin udah terlambat tapi aku mau minta maaf,” ucap pria itu padaku. Ia sepertinya menyadari air muka ku yang kebingungan dan menambahkan kalimatnya, “Ini aku, Yogi.”

Ia pun meminta maaf padaku. Ia memberikan alasan mengapa ia sangat marah waktu itu. Katanya ia sangat merasa kecewa terhadapku yang telah ia beri kepercayaan. Namun ternyata Yogi baru tahu kalau bukan aku yang melakukannya. Ia di beri tahu salah satu teman yang pada hari itu melihat Gendis menempelkan berita itu di mading. Ternyata semua ini ulah Gendis. Sungguh aku tidak pernah menyangkanya. Ia memang tidak baik tapi aku baru tahu kalau ia jahat. Yogi pun begitu. Ia tidak percaya dan katanya ia bertanya langsung kepada Gendis. Yogi memang pintar bermain lidah sehingga membuat Gendis tanpa sengaja membongkar kelakuan buruknya itu.

Yogi merasa sangat menyesal. Ia berulang kali meminta maaf padaku. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah. Aku cukup mengerti perasaan dan keadaannya, “Mau aku maafin? Beliin aku ice cream!” kataku sambil tersenyum.

Kami pun memulai pertemanan kami lagi. Kami sering mengirim pesan dan membuat panggilan. Terkadang kami bertemu untuk membeli ice cream dan makan bersama. Lalu waktu berjalan begitu saja. Mengalir sedikit demi sedikit hingga kini aku menjadi istri Yogi dan di karuniai Reisva dan Raisya. Hingga kini aku sedang berjalan menuju mobil dengan tangan kanan membawa kresek yang penuh dengan ice cream. Ice cream manis dari toko Nci. Toko Nci dimana aku dan Yogi bertemu dan Ice cream manis yang memulai hubunganku dan Yogi lagi.

“Woah! Ice creamnya ada empat!” seru Raisya.
“Aku mau dua ya!” ucap Reisva cepat sambil memegang dua ice cream.

Aku merebut satu ice cream dari kresek dan satu ice cream dari tangan Reisva, “Eits! Kalian masing-masing dapet satu! Sisanya buat ayah sama bunda.”

Yogi yang melihatku merebut ice cream tertawa kecil dan mengelus kepala kedua anak kami. Reisva, Raisya dan Yogi terlihat begitu senang. Mereka tersenyum bahagia. Senyuman bahagia yang membuatku ikut merasa bahagia.

-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar