Jumat, 29 Maret 2013
Itulah yang Ku Ingin Tahu Adanya
Jaraknya enam meter dari pandangan kami. Ia duduk sendiri. Mengenakan kemeja abu-abu dengan kedua lengan baju yang dilipat rapih. Tanpa mengeluarkan banyak energi ia membiarkan enam belas otot mukanya tergerak, tersenyum manis. Sekilas aku memandangnya. Matanya tak berpaling dan ia tetap tersenyum. Beberapa kali ia memandang kami. Tapi kali ini ia tak tersenyum. Aku tak peduli.
Kami bertetangga. Ia menunggui wilayahnya sendiri tanpa teman. Sedangkan aku menunggui teman ku menempati wilayah kami. Sekarang ia tak melihat ke arah kami. Aku yang melihat ke arahnya. Kali ini kemejanya biru tua. Tetap dengan kedua lengan baju yang dilipat rapih. Tak ada yang berubah darinya. Hanya ada sesuatu yang berubah dari tingkah ku.
Ia bersama temannya. Aku bersama temanku. Entah apa alasanya, ada ketertarikan bagiku untuk melihatnya walau hanya sekejap. Tak hanya sekali. Mungkin dua, tiga atau empat kali aku menengok ke arahnya. Aku rasa ini karena wajahnya. Ia lumayan tampan. Atau mungkin karena gayanya. Ia rapih. Aku tak tahu apa alasan bagi mataku untuk melihatnya lagi, lagi dan lagi. Aku hanya membiarkan mataku memandangnya lagi, lagi dan lagi.
Aku melewati batasnya. Masuk ke dalam wilayahnya adalah keinginan ku sendiri. Aku tak banyak bertingkah. Hanya diam di wilayah itu. Ia melihatku, aku melihatnya. Tapi hanya cukup sampai disitu.
Wilayah yang kami tempati harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kami sama-sama berjalan, berdekatan. Tak banyak cara untukku memandangnya walaupun hanya sekejap. Karena jaraknya dua langkah dari tempatku dan terhalang dua wanita. Aku memegang tangan wanita di sebelahku. Ia memegang tangan wanita di sebelahnya. Tak banyak yang terjadi. Karena kami tak banyak bergerak dan tak ada berkata. Hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kini ia selalu ada di tempat yang bisa banyak orang lihat. Jadi tak hanya aku yang melihatnya, yang lain pun melihatnya sesering aku melihatnya. Tak ada yang berubah. Tetap aku yang berubah. Aku hanya tak bosan melihatnya. Lalu penasaran dengan semua tentangnya. Rasanya aneh. Aku bukan menyukainya. Melainkan aku senang melihatnya. Karena ia tak banyak berkata. Karena matanya begitu banyak berkata. Tak pernah ada yang ku mengerti dari pandangannya, itulah yang aku ingin tahu adanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar